Minggu, 24 Juni 2012

Djarum Indonesia Open 2011


DIO 2011

Kuingat hari itu sedang menikmati lantunan lagu-lagu dari radio di kamarku. Sayup-sayup terdengar suara radio yang menembus dicelah-calah jendela kamarku. Hembusan angin malam yang menerobos masuk menerpa tubuhku. Sunyinya malam menambah kesejukkan hati yang sedang mendengarkan radio Prambors. Hari itu aku ingat sedang mendengarkan siaran acara radio “Dedendis”, yang merupakan acara unggulan di radio tersebut. Acara “Dedendis” yang dibawakan oleh Imam Darto dan Danang itu, sungguh sangat membuat hati senang dan dapat menjadi hiburan bagi pikiran yang sudah penat seharian kuliah hingga sore. Acara yang sangat lucu, menarik dan energic dengan lagu-lagu yang penuh semangat pula. Kala itu jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam hampir mendekati adzan isya’ biasanya aku mandi dan setelah itu sholat. Sambil ditemani siaran mereka, waktuku sekarang untuk beristirahat.
Tertawa-tawa aku dalam kelelahanku saat itu, mehilangkan pikiran yang membebani. Disela-sela siarannya saat itu pastilah ada iklan yang melengkapinya. Aku mendengar dengan teliti iklan Djarum Indonesia Open yang akan dikelar kembali di Jakarta mulai tanggal 12-17 juni 2012. Senang hatiku mendengar ikaln itu lagi, sudah satu tahun berselang pada saat itu aku dan teman-temanku menonton bersama saat semifinal. Terkenang kembali saat itu, sangat berkesan sekali dalam hidupku karna untuk pertama kalinya aku menonton pertandingan bulutangkis tingkat dunia secara langsung. Kami berempat, ada Rusma, Anisa dan pacar dari Nisa yaitu Majes serta aku tak ketinggalan ikut serta nonton bareng kami. 
Sudah H+3 acara berlangsung kala itu, aku dan Nisa yang sangat gemar menonton bulutangkis  repot saling berhubungan via SMS dan  mengomentari apa yang kita tonton dari televisi. Tercetuslah kata-kata dari ku, “nonton langsung yuk kita”! Nisa yang sangat menggemari altet nasional Taufik Hidayat itu dengan cepat menyetujui apa yang aku usulkan. Tapi kita bingung saat itu, ingin menonton kapan? Dengan sapa kita pergi? Berapa harga tiketnya? Naik apa ke Istora Senayannya? Penuh dengan tanda tanya dan kegalauan. Akhirnya kita memutuskan untuk mengajak teman-teman yang lain dulu sapa saja yang akan ikut dan urusan naik apa, harganya berapa itu urusan belakang yang penting ajak dulu teman-teman yang ingin menyaksikan secara langsung juga. Sayang, usaha aku dan Nisa hanya berbuah hasil yang angat kecil, hanya Rusma teman SMP ku dan Majest pacar dari nisa yang mau ikut, tapi tak apalah daripada kita tidak jadi menyaksikannya.
Kita putuskan akan menyaksikan ketika semifinal, ketika itu aku ingat sekali hari sabtu tanggal 25 juni 2011 babak semifinal akan digelar di Istora Senayan, Jakarta. Akhirnya dengan bermodalkan uang secukupnya dan nekat kita berangkat pukul 12.00 dari rumahku mereka merkumpul. Naikkah kami dengan sebuah taksi hingga Senayan pukul 14.00 tepat. Acara pun sudah dimulai, layar televisi besar pun sudah terpampang dibeberapa sudut menyiarkan pertandingan anata ganda putra kia Markis Kido dan Hendra Setiawan melawan Korea pasangan dari Lee Yong dae dan Junng Jae Sung. Kami sudah agak terlambat karna ngaret jam datangnya Nisa dan Rusma, buru-buru kami menuju loket tapi ternyata tiket kelas 2 sudah Sold Out hanya tersisa kelas 1 dan VIP saja. Kita bingung, dengan uang pas-pasan tak akan mungkin menonton dengan kelas 1 dan VIP, akhirnya kita putuskan untuk membeli kepada calo saja, dengan harga berbeda dua puluh lima ribu rupiah dari harga aslinya kita pun mendapatkannya. Tak apalah, daripada aku tidak jadi menonton lebih baik seperti itu. Disela mengantri masuk, kami memutuskan untuk mem-body painting wajah kami dengan bendera Indonesia-merah putih sebelah pipi kanan dan bendera Korea sebelah kiri. Senang bukan kepala rasanya mimpi melihat atlet secara langsung, membuat hati ini dapat merasakan langsung euphoria kehebohan para pendukung Indonesia. Walau tidak dari dekat aku menyaksikannya, yang terpenting adalah sdoa dan dukungan sepenuhnya untuk mereka Palawan Negara ini di karpet hijau.
Gepat-gempita sorakan dari para pendukung Indonesia, riuh sekali teriakan mereka yang selalu menyebut,”Indonesia duk-duk duk-duk duk (suara pompom)… Indonesia duk-duk duk-duk duk “ begitu terus untuk mendukung Tim Nasional kita hingga babak penghabisan. Sesekali aku meneriaki atlet pujaanku, “Ahsan ayo bisaa…..”, selalu ku teriak seperti itu, karena saat itu Indonesia bertemu dengan lawan tangguh yaitu China. Penuh semangat ku meneriaki Indonesia agar berada dipuncak kemenangan final keesokkan harinya. Menang-kalah itu sudah biasa, hanya ada tiga wakil dari Indonesia yang dapat melaju kebabak final antara lain: Liliaya N &  Tantowi, Melati & Vita M, dan pasangan Markis Kido & Hendra Setiawan. Hal itu sudah membuat hatiku senang, melihat mereka bertempur dengan sekuat tenaganya. Mimpiku pun manis sekali malam itu, sesuai dengan suasa hati yang gembira pula.
To be continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar