Minggu, 01 April 2012

Membuka eksotisnya alam dan kebudayaan kampung halaman sendiri



          Kampung yang telah menyediadakan tempatnya untukku lahir disana adalah Desa Gemulung, kec. Gundih, kel. Sobo, kab. Grobogan, kota Purwodadi, Jawa Tengah. Sudah bisa ditebak, betapa jauh kampungku dari kota besar Purwodadi, jaraknya sekitar 18an KM yang ditempuh oleh kendaraan bermotor sekitar 1-2 jam karna jalan yang bergelombang dan lika-liku yang membelah bukit Jati dan sawah. Desa Genengan jauh dari jalan raya besar ataupun Gundih, harus menempuh jarak 5KM baru bisa mencapai jalan besar. Dahulu, kampungku ini belum ada angkutan umum seperti: angkot, becak, minibus, Truk ataupun mobil pribadi yang dijadikan angkutan. Pembangunan daerah Jalan Baru yang (meliputi……..) yang baru ada angkutan umum pada tahun 2000an terakhir ini, itu pun hanya Truk dan Minibus pengangkutan barang dan orang yang terkadang dicampur aduk menjadi satu. Kampung yang masih sangat tradisional sekarang ini sudah banyak motor, tapi budaya kami masih sangat kental dengan adat istiadat yang diajarkan oleh orang tua dulu.
Pembangunan jalan dari sepanjang Gundih yang biasa dikenal Jalan Baru ini hingga kampungku masih sangat hancur dan banyak lubang yang membuat perjalanan untuk ke kampungku saja bisa ditempuh hingga 30 menit menggunakan mobil. Kami harus melajukan mobil secara perlahan agar tidak terperosok kedalam  lubang yang dibuat oleh bekas jejak Truk. Jalan sudah berkali-kali diperbaiki dan diaspal oleh Bupati Grobogan untuk memudahkan warga untuk beraktivitas namun, tetap saja jalannya tidak bertahan dalam jangka waktu lama. Satu sampai dua tahun kedepan pasti jalannya sudah rusak lagi oleh lalu lalangnya Truk yang mengangkut hasil pertanian atau pun sewaan warga untuk kondangan. Hal ini disebabkan karna struktur tanah kampung kami ini adalah tanah putih yang bisa dibilang tanah kapur yang akan  hancur oleh kikisan air. Oleh sebab itu, akhirnya diputuskan jalannya untuk dicor tapi tidak diaspal lagi.  Jalan cor-coran ini baru beroperasi pada dua tahun terakhir ini, tapi itupun tidak secara merata.

Kampungku ini bisa terbilang berada diatas bukit, tapi tidak ada gunung ditempatku ini. Hanya pada saat malam hari dan pagi hari sangat sejuk, tapi ketika siang datang, panas matahari terasa sangat menyengat kulit dan kepala. Rasa panas itu muncul sekitar pukul 9 pagi hingga pukul 3 sore, rasanya matahari masih saja meyirami bumi dengan keterangan sinarnya. Hawa yang panas ini sangat enak jika berenang disungai untuk menyejukkan badan, yang seharian lelah beraktivitas. Aku saja tiap pulang kampung, minimal satu atau dua kali untuk menyempatkan diri berenang di sungai itu ada. Sungai yang masih jernih mengalir dengan tenang yang membelah hutan bambu, melewati sawah, bukit pohon kayu putih dan kampung lain. Sungai yang ada dikampungku ini tidak banyak terdapat batu besar, hanya ada pasir dan batu krikil kali. Semua aktivitas warga kampungku selalu memanfaatkan air sungai ini, mulai dari mandi, cuci, kakus, perairan sawah, untuk minum, dan mandi ternak. Air sungai ini tak pernah sekalipun kering, karna ada asupan air dari bendungan Kedung Ombo. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar