Kuingat hari itu sedang menikmati lantunan
lagu-lagu dari radio di kamarku. Sayup-sayup terdengar suara radio yang
menembus dicelah-calah jendela kamarku. Hembusan angin malam yang menerobos
masuk menerpa tubuhku. Sunyinya malam menambah kesejukkan hati yang sedang
mendengarkan radio Prambors. Hari itu aku ingat sedang mendengarkan siaran
acara radio “Dedendis”, yang merupakan acara unggulan di radio tersebut. Acara
“Dedendis” yang dibawakan oleh Imam Darto dan Danang itu, sungguh sangat membuat
hati senang dan dapat menjadi hiburan bagi pikiran yang sudah penat seharian
kuliah hingga sore. Acara yang sangat lucu, menarik dan energic dengan
lagu-lagu yang penuh semangat pula. Kala itu jam sudah menunjukkan pukul tujuh
malam hampir mendekati adzan isya’ biasanya aku mandi dan setelah itu sholat.
Sambil ditemani siaran mereka, waktuku sekarang untuk beristirahat.
Tertawa-tawa aku dalam kelelahanku
saat itu, mehilangkan pikiran yang membebani. Disela-sela siarannya saat itu
pastilah ada iklan yang melengkapinya. Aku mendengar dengan teliti iklan Djarum
Indonesia Open yang akan dikelar kembali di Jakarta mulai tanggal 12-17 juni
2012. Senang hatiku mendengar ikaln itu lagi, sudah satu tahun berselang pada
saat itu aku dan teman-temanku menonton bersama saat semifinal. Terkenang
kembali saat itu, sangat berkesan sekali dalam hidupku karna untuk pertama
kalinya aku menonton pertandingan bulutangkis tingkat dunia secara langsung.
Kami berempat, ada Rusma, Anisa dan pacar dari Nisa yaitu Majes serta aku tak
ketinggalan ikut serta nonton bareng kami.
Sudah H+3 acara berlangsung kala
itu, aku dan Nisa yang sangat gemar menonton bulutangkis repot saling berhubungan via SMS dan mengomentari apa yang kita tonton dari
televisi. Tercetuslah kata-kata dari ku, “nonton langsung yuk kita”! Nisa yang
sangat menggemari altet nasional Taufik Hidayat itu dengan cepat menyetujui apa
yang aku usulkan. Tapi kita bingung saat itu, ingin menonton kapan? Dengan sapa
kita pergi? Berapa harga tiketnya? Naik apa ke Istora Senayannya? Penuh dengan
tanda tanya dan kegalauan. Akhirnya kita memutuskan untuk mengajak teman-teman
yang lain dulu sapa saja yang akan ikut dan urusan naik apa, harganya berapa
itu urusan belakang yang penting ajak dulu teman-teman yang ingin menyaksikan
secara langsung juga. Sayang, usaha aku dan Nisa hanya berbuah hasil yang angat
kecil, hanya Rusma teman SMP ku dan Majest pacar dari nisa yang mau ikut, tapi
tak apalah daripada kita tidak jadi menyaksikannya.
Kita putuskan akan menyaksikan
ketika semifinal, ketika itu aku ingat sekali hari sabtu tanggal 25 juni 2011
babak semifinal akan digelar di Istora Senayan, Jakarta. Akhirnya dengan
bermodalkan uang secukupnya dan nekat kita berangkat pukul 12.00 dari rumahku
mereka merkumpul. Naikkah kami dengan sebuah taksi hingga Senayan pukul 14.00
tepat. Acara pun sudah dimulai, layar televisi besar pun sudah terpampang
dibeberapa sudut menyiarkan pertandingan anata ganda putra kia Markis Kido dan
Hendra Setiawan melawan Korea pasangan dari Lee Yong dae dan Junng Jae Sung. Kami
sudah agak terlambat karna ngaret jam datangnya Nisa dan Rusma, buru-buru kami
menuju loket tapi ternyata tiket kelas 2 sudah Sold Out hanya tersisa kelas 1 dan VIP saja. Kita bingung, dengan
uang pas-pasan tak akan mungkin menonton dengan kelas 1 dan VIP, akhirnya kita
putuskan untuk membeli kepada calo saja, dengan harga berbeda dua puluh lima
ribu rupiah dari harga aslinya kita pun mendapatkannya. Tak apalah, daripada
aku tidak jadi menonton lebih baik seperti itu. Disela mengantri masuk, kami
memutuskan untuk mem-body painting wajah
kami dengan bendera Indonesia-merah putih sebelah pipi kanan dan bendera Korea
sebelah kiri. Senang bukan kepala rasanya mimpi melihat atlet secara langsung,
membuat hati ini dapat merasakan langsung euphoria kehebohan para pendukung
Indonesia. Walau tidak dari dekat aku menyaksikannya, yang terpenting adalah
sdoa dan dukungan sepenuhnya untuk mereka Palawan Negara ini di karpet hijau.
Gepat-gempita sorakan dari para
pendukung Indonesia, riuh sekali teriakan mereka yang selalu menyebut,”Indonesia
duk-duk duk-duk duk (suara pompom)… Indonesia duk-duk duk-duk duk “ begitu
terus untuk mendukung Tim Nasional kita hingga babak penghabisan. Sesekali aku
meneriaki atlet pujaanku, “Ahsan ayo bisaa…..”, selalu ku teriak seperti itu,
karena saat itu Indonesia bertemu dengan lawan tangguh yaitu China. Penuh
semangat ku meneriaki Indonesia agar berada dipuncak kemenangan final keesokkan
harinya. Menang-kalah itu sudah biasa, hanya ada tiga wakil dari Indonesia yang
dapat melaju kebabak final antara lain: Liliaya N & Tantowi, Melati & Vita M, dan pasangan
Markis Kido & Hendra Setiawan. Hal itu sudah membuat hatiku senang, melihat
mereka bertempur dengan sekuat tenaganya. Mimpiku pun manis sekali malam itu,
sesuai dengan suasa hati yang gembira pula.
To be continue
